cinta melukaiku setahun sekali
namun luka mencintainya hanya satu hari,
agar aku bisa mencintai lukanya selamanya
Monday, March 30, 2009
Monday, March 16, 2009
di sebuah hari terakhirmu
::für nisa diani
tahukah kamu
di desaku ada pohon yang tiap malam jumat
meneteskan air mata dari daunnya,
nanti malam mungkin aku akan membawa plastik
besok, saat kita bertemu aku akan berkata begini:
"inilah air mataku, aku tampung dalam plastik."
tahukah kamu
di desaku ada pohon yang tiap malam jumat
meneteskan air mata dari daunnya,
nanti malam mungkin aku akan membawa plastik
besok, saat kita bertemu aku akan berkata begini:
"inilah air mataku, aku tampung dalam plastik."
puisi kilat
::untuk komunitas piramida di mesir
(1)
Aku puas dengan langit yang biru
Tanpa salju membeku seperti musim lalu
Aku puas dengan hatiku yang mengharu
Tanpa cinta pilu di tahun lalu
(2)
Musim kemarau belum berlalu
Dan daun jati sudah berhenti meranggas
Hujan belum nampak akan turun
Namun padang gurun mulai bersemi
(3)
Kami di sini bertanya-tanya
Ada apa gerangan di sana
Badai gurun berhenti berhembus sejenak
Menunggu apa yang akan terjadi
(4)
Jawablah rindu ini
Meski dalam kata terbungkus duri
Wujudkanlah harap ini
Meski dalam nada sehalus pasir
(1)
Aku puas dengan langit yang biru
Tanpa salju membeku seperti musim lalu
Aku puas dengan hatiku yang mengharu
Tanpa cinta pilu di tahun lalu
(2)
Musim kemarau belum berlalu
Dan daun jati sudah berhenti meranggas
Hujan belum nampak akan turun
Namun padang gurun mulai bersemi
(3)
Kami di sini bertanya-tanya
Ada apa gerangan di sana
Badai gurun berhenti berhembus sejenak
Menunggu apa yang akan terjadi
(4)
Jawablah rindu ini
Meski dalam kata terbungkus duri
Wujudkanlah harap ini
Meski dalam nada sehalus pasir
puisi bubur
baja kokoh terendam panas
menjadi bubur
kardus kertas terendam panas
menjadi bubur
cintaku padamu terendam amarah
menjadi bubur
menjadi bubur
kardus kertas terendam panas
menjadi bubur
cintaku padamu terendam amarah
menjadi bubur
Subscribe to:
Posts (Atom)